Yakin Harga Ayam dan Telur Turun Pertengahan Ramadan

Kamis, 17 Mei 2018 – 11:40 WIB

Yakin Harga Ayam dan Telur Turun Pertengahan Ramadan

Daging ayam di pasar. Foto: dok jpnn


jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko menyebutkan kenaikan harga ayam dan telur di tingkat konsumen masih ada kaitannya dengan pelemahan Rupiah yang dialami Indonesia.

”Harga sekarang naik karena banyak kasus gagal produksi dan karena harga pakan yang naik akibat Dollar yang naik signifikan,” ujar Singgih.

Singgih mengatakan bahwa harga ayam dan telur akan segera normal kembali memasuki pertengahan bulan Ramadan dimana serapan juga akan turun. Selain itu, diharapkan kondisi Rupiah segera stabil sehingga produksi ayam dan telur membaik.

Saat dikonfirmasi Kementerian Perdagangan belum mau membeberkan secara detil antisipasi langkah yang akan diambil. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti hanya menegaskan bahwa pihaknya akan mengawasi pergerakan harga. ”Kita akan pantau terus dan lakukan penetrasi pasar,” ujar Tjahya singkat.

Pemprov Jatim terus berupaya menjaga kestabilan ketersediaan dan harga bahan pokok pada masa Ramadan dan Lebaran. Meski begitu ada beberapa bahan pokok yang saat ini cenderung mengalami kenaikan.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Saiful Jasan mengatakan, bahan pokok yang cenderung naik harganya itu adalah daging ayam dan telur. Untuk harga daging ayam saat ini Rp 32-33 ribu per kg. Padahal harga eceran tertinggi (HET) daging ayam dibanderol Rp 32 ribu per kg.

Sementara itu, harga telur tercatat Rp 24-25 ribu per kg. Sedangkan HET telur tercatat Rp 22 ribu per kg. Menurut dia, kenaikan itu terjadi karena permintaan yang meningkat. Meski begitu, kecenderungan kenaikan itu perlu diantisipasi agar harga tidak semakin naik.

Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah menggelar operasi pasar murah. Terkait hal itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan distributor dan pabrikan agar menggelar operasi pasar secara mandiri. Operasi pasar mandiri itu bisa dilakukan di beberapa titik. Harapannya, harga bisa tetap terkendali dengan baik.

Industri dan pabrikan yang dimaksud adalah industri atau pabrikan penyedia barang-barang kebutuhan pokok. Seperti minyak goreng ataupun telur. Berapa pabrikan yang akan diajak bekerja sama, pihaknya belum membeberkan data. ”Tapi datanya sudah ada. Itu akan sekaligus menjadi bahan kami untuk melakukan monitoring,” ujarnya.

BACA JUGA: Awal Ramadan, Harga Sejumlah Bahan Pangan Naik

Saat ini, kecenderungan kenaikan permintaan bahan pokok secara umum bisa terjadi. Meski persentase kenaikannya belum tercatat signifikan, namun antisipasi perlu dilakukan sejak dini. Sehingga, harga tetap terkendali hingga Lebaran.

Sebelumnya, Perum Bulog Divisi Regional Jatim telah mengantisipasi gejolak harga dengan menggelar gerakan stabilisasi harga pangan (GSHP). Antisipasi dilakukan dengan menyediakan beberapa komoditi yang diprediksi bisa mengalami kenaikan harga. Seperti beras, minyak goreng, gula pasir, dan tepung terigu.

”Kita optimalkan stabilisasi. Yang jelas secara umum stok aman dan tersedia. Kita juga berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk pasar murah,” tuturnya. (agf/puj/vir/car)

 


Berita Terkait: