Semangat Syawal di Tahun Politik

Jumat, 15 Juni 2018 – 10:35 WIB

Semangat Syawal di Tahun Politik

Salat Idulfitri. ILUSTRASI. Foto: JawaPos.com/JPNN.com


jpnn.com, JAKARTA - Ramadan dan Idulfitri tahun ini cukup istimewa untuk bangsa Indonesia, karena bersamaan dengan beberapa momen politik.

Lebaran tahun ini berada di penghujung masa kampanye 171 pilkada, dan berada pada awal tahapan pileg dan pilpres.


 Anggota Komisi III DPR Habib Aboe Bakar Alhabsyi mengatakan tidak bisa dihindari adanya akulturasi dari dua momen tersebut.

"Tidak bisa dipungkiri hal ini menimbulkan dinamika, baik yang memberikan tren positif ataupun sebaliknya," kata Aboe, Jumat (15/6). 

Para kandidat kepala daerah tentunya banyak memanfaatkan momen-momen  Ramadan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas.  

Mulai dari menggelar acara buka bersama, berbagi santunan, hingga berbagi parsel lebaran.  

Calon anggota legislatif pun mulai menebar baliho, spanduk dan iklan ucapan selamat menjalankan puasa Ramadan hingga Idulfitri.

"Tak kalah pula para calon presiden juga memasang bilboard serupa hingga melakukan berbagai safari politik ke berbagai kalangan," ungkapnya. 

Tak hanya itu, lanjut Aboe, gerakan hastag #2019GantiPresiden semakin menggigit. Kaus versi mereka semakin laris manis diperdagangkan banyak orang.

Demikian pula, gerakan klakson tiga kali jika setuju untuk ganti presiden pada pilpres yang akan datang. 

Kelompok yang kontra dengan gerakan ini tidak tinggal diam. Mereka memasang spanduk di tol yang menyatakan bahwa tol tersebut dibangun oleh Jokowi.  

Meme di media sosial juga bertebaran, bernada menyindir agar pengikut hastag ganti presiden tidak lewat jalan tol. 

Kondisi tahun politik yang sedemikian dinamis seharusnya mampu meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.  

Dinamika ini  seharusnya dapat dikonsolidasikan dengan baik saat memasuki bulan syawal.

Karena saat masuk bulan ini, masyarakat Indonesia memiliki budaya lebaran. Yaitu peringatan hari raya Idulfitri yang berisi kegiatan halal bihalal.

Halal bihalal adalah istilah khas Indonesia. Menurut penelusuran sejarah, istilah ini muncul antara 1946-1948 saat ibu kota Indonesia ada di Yogyakarta.

Saat itu, ujar Aboe, KH Wahab Chasbullah mengusulkan sebuah konsolidasi nasional dalam bentuk halal bihalal, agar menghilangkan berbagai problema diantara para tokoh dan menyatukan mereka dengan bermaaf maafan.

"Tradisi tersebutlah yang kemudian berlangsung sampai hari ini," ungkapnya. 

 


Belajar dari sejarah tersebut, tambah dia, semangat bulan Syawal sebenarnya sudah digunakan oleh tokoh nasional untuk mengonsolidasikan komponen bangsa melalui halal bihalal. Dengan tradisi inilah, setiap komponen bangsa ini dapat memiliki alasan untuk bertemu dengan komponen yang lain. Tentunya hal ini akan memilik dampak positif saat peluang ini dimanfaatkan untuk menyokong konsolidasi persatuan dan kesatuan bangsa.

Konsolidasi persatuan umat dalam bulan Syawal juga pernah terjadi di dalam sejarah perkembangan Islam. Syawal justru pernah menjadi bulan perjuangan yang amat menentukan bagi kaum muslimin. Itu terjadi pada tahun 5 H. Bulan Syawal kala itu merupakan bulan yang mendebarkan, karena persatuan umat sedang diuji. Kaum muslimin dikeroyok oleh pasukan multinasional yang merupakan gabungan dari Quraisy, Ghatafan, dan lain-lain. 

 


Karena itulah perang ini dikenal sebagai perang ahzab (gabungan/sekutu) , di samping juga terkenal dengan sebutan perang khandaq yang berarti parit, karena kaum muslimin menggunakan strategi membuat parit di sekeliling Madinah untuk bertahan dan terbukti efektif, hingga pasukan ahzab tidak bisa menyerang masuk Madinah.

 


Penggalian parit atau khandaq ini adalah kerja keras yang luar biasa. Persatuan kaum muslimin benar-benar terasa di sana. Begitupun keimanan mereka dan doa-doa yang khusyuk semakin mendekatkan mereka kepada Allah. 

 


Ditambah dengan catatan-catatan kepahlawanan mulai dari Nu’aim yang memecah belah pasukan Ahzab dan bani Quraidzah yang berkhianat di belakang kaum muslimin, sampai keberanian dan kecerdasan Hudzaifah Ibnul Yaman yang menerobos perkemahan pasukan Quraisy untuk mencari informasi. "Benar-benar peningkatan yang luar biasa pasca-Ramadan," tegasnya. 

 


Lalu Allah menolong kaum muslimin dengan menurunkan angin topas yang memporakporandakan  perkemahan pasukan Qurasiy.

 


Selain itu, sejarah mencatat bahwa konsolidasi keumatan  juga banyak dilakukan pada bulan Syawal. Misalnya,    27 Syawal, perjalanan Nabi SAW ke Thaif, di tahun ke-10 kenabian, kemudian pada Syawal 1 Hijriyah, terdapat Perang Bani Qainuqa, pada 17 Syawal 3 Hijriyah ada Perang Uhud, selanjutnya 18 Syawal 5 Hijriyah ummatIslam mengadapa] i Perang Khandaq, dan pada 6 Syawal 8 Hijriyah ummat Islam harus menghadapiPerang Hunain. "Ini ada sebuah hikmah bahwa syawaladalah bulan konsolidasi sosial yang seharusnya banyak dimanfaatkan bangsa ini untuk meneguhkan persatuan," paparnya. 

 

Tradisi halal bihalal yang ada harus dimanfaatkan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah dan ikatan persaudaraan. Halal bihalal akan dapat dioptimalkan untuk mempererat persatuan sebagai bangsa. Melalui forum halal bihalal  bisa sambung silaturahmi antarorganisasi, bisa saling ketemu antartokoh maupun antaranggota masyarakat. 

 


"Ini adalah kunci membuka komunikasi, ini adalah momentum untuk menyambung silaturahmi," ujarnya. 

 


Dengan demikian integrasi bangsa akan semakin bagus, dan persatuan nasional kian kuat. Semangat persatuan sebenarnya sudah digembleng selama bulan Ramadan. Masyarakat telah dilatih untuk kompak dalam satu komando. Sebulan penuh masyarakat dibiasakan untuk mulai tidak makan sejak adzan subuh dikumandangkan. Mereka kompak berbuka puasa saat bedug magrib telah tiba. 

 


Ini adalah gemblengan sikap persatuan yang telah diterapkan selama bulan Ramadan. Tidak hanya itu, selama bulan Ramadan juga dilaksanakan shalat taraweh. S elama salat ini, semua jemaah terbiasa dalam satu komando imam, mulai takbiratulikham hingga salam.

 

 

 

Pada penghujung Ramadan umat Islam meningkatkan rasa persaudaraan dan persatuan dengan saling berbagi. 

 


Mengeluarkan zakat fitrah untuk didistribuskan kepada masyarakat yang fakir. Selain itu juga dikeluarkan zakat maal sebagai upaya distribusi harta agar tidak menumpuk pada sekelompok orang saja. 

 "Ini merupakan bagian dari implementasi semangat persatuan melalui distribusi ekonomi. Konsolidasi ekonomi menjadi salah satu penopang integrasi persatuan masyarakat," jelas Aboe. 

Semangat kekompakan yang dibagung melalui sahur dan buka puasa selama Ramadan harus dilanjutkan di bulan Syawal. Kerukunan dan rancaknya gerakan selama saat taraweh harus menjadi spirit persatuan yang tidak boleh berhenti hanya di bulan Ramadan. 

Distribusi harta antara yang kaya dan miskin juga merupakan bagian dari sendi penyokong persatuan, karenanya harus dipelihara di tengah masyarakat dan jangan berhenti saat SyawL tiba.

Bulan Syawal adalah kesempatan untuk meningkatkan semangat persatuan yang telah banyak dilakukan saat Ramadan. Istilah “Syawal" berasal dari kata Arab, yaitu syala yang berarti irtafa’a, naik atau meninggi.

"Itulah sebab bulan Syawal tidak sepantasnya membuat ibadah dan kualitas diri kita turun," katanya.

Justru seharusnya, sesuai dengan makna syawal, maka  harus mengalami peningkatan dengan berupaya istiqamah serta meningkatkan kualitas ibadah dan diri. Termasuk peningkatan  silaturahmi serta menjaga persatuan di tengah masyarakat.

 "Di tengah tahun politik, konsolidasi keummatan pada bulan Syawal menjadi kunci," kata wakil ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di DPR itu. (boy/jpnn)


Berita Terkait: