Ramadan Momen Perkuat Toleransi dan Solidaritas Kebangsaan

Rabu, 23 Mei 2018 – 01:28 WIB

Ramadan Momen Perkuat Toleransi dan Solidaritas Kebangsaan

Ilustrasi mengaji. Foto: Ricardo/JPNN


jpnn.com, JAKARTA - Ramadan menjadi momen tepat bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim, untuk memperkuat toleransi dan solidaritas kebangsaan di dunia nyata maupun maya.

“Ini menjadi tantangan berat bagi bangsa Indonesia. Namun, saya optimistis kita pasti bisa karena kemajemukan dan perbedaan inilah yang membuat Indonesia kuat. Asalkan semua bisa saling menerima dan menghormati,” kata tokoh kebangsaan Romo Franz Magnis Suseno di Jakarta, Selasa (22/5).

Dia juga menyarankan semua pihak untuk bisa menahan diri dan membuang perasaan menang sendiri.

Menurut dia, hal itu penting karena dampak ujaran kebencian, hoaks, dan radikalisme sangat berbahaya.

Dia menambahkan, jika hal-hal negatif itu dipolitisasi, bisa dipakai untuk mengadu domba.

Yang lebih parah adalah apabila politisasi itu sudah menggunakan unsur agama.

Karena itu, solidaritas langsung dan saat beraktivitas di media sosial harus ditingkatkan untuk meminimalisasi hal-hal tersebut.

Secara pribadi, Romo Magnis optimistis bangsa Indonesia mampu menghalau berbagai hal negatif perusak persatuan.

Pasalnya, selama kurun 30 tahun terakhir, hubungan antarumat beragama di Indonesia justru semakin kuat dan positif.

Contohnya saat terjadi serangan teroris dengan pedang di sebuah gereja di Yogyakarta.

Keesokan pemuda dan pemudi muslim turun untuk membantu membersihkan gereja.

Begitu juga saat terjadi teror bom di Surabaya dan Sidoarjo beberapa hari lalu.

“Itu memang menggembirakan untuk menumbuhkan harmoni dan solidaritas. Namun, lebih penting lagi adalah kesediaan untuk saling menerima dan menghormati yang akhirnya bisa saling menghargai sehingga terbangun hubungan yang positif,” terang pria kelahiran Polandia, 25 Mei 1936 itu.

Ditilik dari sisi sejarah, sambung Romo Magnis, Indonesia adalah negara yang kuat dan kukuh.

Kemerdekaan Indonesia bukan dari hadiah negara lain, tetapi hasil perjuangan para pahlawan bangsa.

Kemudian, jiwa persatuan dengan Sumpah Pemuda 1928 dan kemajemukan saat memutuskan ideologi negara terbukti menjadi fondasi kukuh yang mampu menjaga bangsa dari berbagai gangguan.

“Indonesia negara yang sangat berdaulat dalam menangani dirinya sendiri. Dari merdeka, banyak masalah terjadi tetapi tidak sampai mengancam kebangsaan,” tegas direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya ini. (jos/jpnn)


Berita Terkait: