Menjaga Aqidah tanpa Pamrih

Senin, 04 Juni 2018 – 20:56 WIB

Menjaga Aqidah tanpa Pamrih

Ini demi menjaga akidah anak-anak agar tidak berpaling ke agama lain di sekitarnya di Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto Indra Mufarendra/Radar Malang/JPNN.com


jpnn.com, MALANG - Eksistensi Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Musala Miftahul Jannah, Dusun Kebon Kuto, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini tidak lepas dari peran sejumlah orang yang merelakan waktunya untuk menjadi tenaga pengajar.

Status mereka adalah sukarelawan.

Ini demi menjaga akidah anak-anak agar tidak berpaling ke agama lain di sekitarnya.

===============================
Indra Mufarendra - Radar Malang
===============================

Sore itu, Senin (28/5), dua perempuan, Khotimatul Khusnah dan Nur Hasanah, terlihat telaten meladeni satu per satu anak didiknya yang ”setor” bacaan Alquran.

Sesekali, mereka harus mengingatkan anak didik ketika bacaannya salah.

Kegiatan mengaji di TPQ Musala Miftahul Jannah itu berlangsung mulai pukul 15.00–17.00.

Di akhir kegiatan, Khotimatul dan Hasanah mengajak anak-anak didik mereka untuk bernyanyi. Tentu, lagunya berkaitan dengan materi pendidikan agama Islam.

Itulah rutinitas yang dijalani Khotimatul dan Hasanah. Setidaknya, ada waktu satu hari dalam setiap minggu yang mereka gunakan untuk mengajar di TPQ Musala Miftahul Jannah.
Sementara di hari lainnya, ada enam orang lain yang bergiliran mengajar di TPQ tersebut.

Para pengajar di TPQ Musala Miftahul Jannah itu seluruhnya merupakan penyuluh agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) yang ditempatkan di Kecamatan Wagir. Mengajar di TPQ, sejatinya bukan tugas utama mereka.

Khotimatul misalnya, punya tugas untuk mengentaskan buta aksara. Sementara Hasanah kebagian tugas untuk pencegahan bahaya narkoba.

Sebagai penyuluh, mereka mendapatkan insentif Rp 500 ribu per bulan. Sementara sebagai pengajar di TPQ Musala Miftahul Jannah, mereka tidak mendapatkan bayaran sepeser pun.
Tapi, semua mereka jalani dengan ikhlas.

Khotimatul misalnya. Meski harus menempuh perjalanan cukup jauh dari tempat tinggalnya di Desa Petungsewu, dia tetap bersemangat mengajar di TPQ Musala Miftahul Jannah.

”Alhamdulillah, niat saya memang ingin membantu,” ujar dia.

Sebab, dia tahu bahwa anak-anak Dusun Kebon Kuto tinggal di daerah yang mayoritas penduduknya nonmuslim. Tepatnya mayoritas beragama Hindu. Dia khawatir, tanpa ada penanaman materi agama Islam yang kuat, akidah anak-anak itu bisa goyah.

Sementara itu, Nur Hasanah menyebut bahwa ada perbedaan antara karakter anak-anak di TPQ Musala Miftahul Jannah dengan anak-anak di TPQ yang dia asuh.

Yakni, di TPQ Al Kautsar, Desa Pandanrejo. ”Memang, daya tangkap anak-anak di sini (TPQ Musala Miftahul Jannah) lebih lambat,” ujar dia.

Tapi, tetap saja, ada satu hal yang membuat Hasanah sulit berpaling dari TPQ Musala Miftahul Jannah.

”Saya melihat semangat belajar mereka sangat tinggi. Kalau mereka semangat, kami jadi lebih semangat,” kata perempuan yang sudah lebih dari setahun belakangan ini mengajar di TPQ Musala Miftahul Jannah itu.

Sementara itu, pengasuh TPQ Musala Miftahul Jannah Fatkhur Rahman mengungkapkan, TPQ ini memang dibesarkan oleh orang-orang dari luar dusun. Bahkan, dari luar Desa Sukodadi.

Tiap-tiap pengasuh atau pengajar itu sudah memiliki kesibukannya masing-masing. Tak terkecuali Amin–sapaan akrab Fatkhur Rahman.

Selain TPQ Musala Miftahul Jannah, Amin juga mengurus TPQ Masjid Sabilillah Sunanbonang, Desa Sukodadi, serta TPQ di musala Dusun Jamuran, Desa Sukodadi.

”Di TPQ Musala Miftahul Jannah, jadwal saya tiap hari Sabtu,” ujar dia.

Karena itu, dia berharap, suatu saat muncul tenaga pengajar dari Dusun Kebon Kuto. Dia juga membuka pintu lebar-lebar bagi sukarelawan, termasuk dari kalangan perguruan tinggi yang ingin membantu. (muf/c2/abm)


Berita Terkait: