Material Longsor Dibersihkan, Arus Lalin Siantar-Parapat Kembali Lancar

Sabtu, 19 Januari 2019 – 21:32 WIB

Material Longsor Dibersihkan, Arus Lalin Siantar-Parapat Kembali Lancar

Material longsor yang menimpa Jembatan Sidua-dua, Simalungun, sudah dibersihkan. Sehingga, arus lalu lintas Siantar-Prapat sudah lancar. Foto: istimewa for SUMUT POS


jpnn.com, MEDAN - Arus lalu lintas Jalan Lintas Siantar-Parapat sudah lancar dilalui kendaraan bermotor setelah material longsor di Jembatan Sidua-dua Kabupaten Simalungun, dibersihkan.

Meski demikian, petugas dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) II dan instansi terkait, tetap berjaga-jaga kalau-kalau terjadi longsor susulann

“Lancar, tidak ada gangguan lalu lintas. Material longsor juga sudah bisa di atasi, makanya lalu-lintas sekarang lancar,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala BBPJN II, Bambang Pardede menjawab Sumut Pos, Jumat (18/1).

Dia mengatakan, pihaknya hanya akan fokus pada dampak bencana yang menerjang badan jalan. Sementara untuk permasalahan di hulu, akan dibahas lebih lanjut oleh pemangku kepentingan terkait lainnya.

“Sejauh ini tidak ada kendala. Kalau hujan, baru ada kendala. Makanya petugas kita yang bertugas di wilayah sana, selalu standby bila hujan deras turun yang kerap terjadi longsor lagi,” katanya.

Bambang menambahkan, dalam hal penanganan dan pencarian solusi longsor Jembatan Sidua-dua, pihaknya bersama stakeholder terkait sedang menunggu surat keputusan (SK), mengingat permasalahan ini mesti dilakukan secara terpadu.

“Kalau masing-masing instansi, saya kita sudah mengerti soal tugas dan tanggung jawabnya. Memang ada rencana kita lakukan rapat pembahasan lagi, kalau ada progres nanti saya kabari,” katanya.

Pembangunan benteng atau jembatan baru sebagai salah satu solusi atas bencana longsor yang berulangkali menerjang Jembatan Sidua-dua, juga masih akan dipertimbangkan.

“Lagi dipertimbangkan, belum diputuskan. Kita masih mau rapat koordinasi dulu dengan stakeholder terkait,” kata Bambang belum lama ini.

Pihaknya berharap dalam rapat koordinasi lanjutan nantinya, seluruh instansi terkait lebih serius melakukan pembahasan guna mencari solusi atas peristiwa bencana alam ini. Terlebih, berkenaan sumber bencana yang diduga berasal dari hulu sungai.

“Di hilir (Jembatan Sidua-dua) ini kan dampaknya. Yang perlu kita koordinasikan lebih jauh bagaimana di hulunya itu kita duga sumber bencana,” katanya.

Pekan depan, akan dilaksanakan rapat teknis antarpemangku kepentingan, membahas tindakan mengurangi bencana (mitigasi) secara umum di Sumut.

Selain itu secara khusus pada titik longsor di Jalan Lintas Siantar-Parapat, baru akan dibentuk tim terpadu dalam upaya mencari penyebab berikut solusi atas bencana alam tersebut.

Demikian terungkap dalam rapat koordinasi antarstakeholder di Sumut menyikapi peristiwa bencana alam yang menyelimuti daerah ini secara keseluruhan, di Kantor Gubernur Sumut, Jl. P Diponegoro Medan, Senin (14/1).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut menjadi leading sector dalam rakor yang dibuka Sekdaprovsu, R Sabrina. Pertemuan tertutup itu dihadiri pihak BBPJN II, Dishub Sumut, Polda Sumut, Badan Geologi, BMKG dan pemangku kepentingan terkait lainnya.

Kepala BPBD Sumut, Riadil Akhir Lubis mengatakan, salah satu poin dalam rakor yakni, akan melakukan rencana aksi minggu depan yang akan dilakukan masing-masing OPD (organisasi perangkat daerah) baik provinsi dan kabupaten/kota bersama instansi vertikal.

Diakuinya akan segera dibentuk tim terpadu terkhusus penanganan longsor Jembatan Sidua-dua, seraya diminta kepada masing-masing OPD untuk melakukan supervisi. “Tim terdiri dari lintas sektoral nantinya.

Dan akan bersinergi dengan tim ahli Kemen PUPR yang sudah turun sebelumnya. Kepada seluruh kepala daerah juga diminta untuk dapat mengatur tata ruang wilayahnya. Lakukan audit kebencanaan sehingga kedepan lebih muda melakukan upaya antisipasinya,” katanya.

Menurut dia, aturan tata ruang yang tidak terkontrol selama ini, membuat masyarakat menjadi korban bila terjadi bencana alam. Karenanya ke depan Pemprovsu berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya bermukim di area rawan bencana alam seperti di pinggir sungai, lereng gunung dan tebing.

Secara umum pembahasan dalam rakor tersebut terhadap potensi bencana alam di daerah-daerah rawan bencana di Sumut. Termasuk penanganan banjir bandang dan longsor di Ulu Pungkut, Madina, Nias, Toba Samosir dan daerah lainnya.

“Khusus di Jembatan Sidua-dua, dugaan sementara kita adanya aktivitas pertanian dan perkebunan yang bisa dikatakan sebagai penyebab bencana alam. Tapi kita gak bisa simpulkan dulu, dan baru sebatas menduga. Masing-masing OPD kita juga sudah memberikan analisis terhadap longsor di sana,” kata mantan Kepala Bappeda Sumut itu.

Bahkan, Gubernur Sumatera Utara sudah menginstruksikan lagi semua kepala daerah untuk antisipasi bencana dan menata ulang tata ruang wilayah masing-masing. (prn)


Berita Terkait: