Masjid yang Bermanfaat Bagi Umat Lain

Rabu, 13 Juni 2018 – 16:56 WIB

Masjid yang Bermanfaat Bagi Umat Lain

Masjid Mujahidin di Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini benar-benar mengamalkan konsep masjid di zaman Nabi Muhammad SAW. Foto Radar Malang/JPNN.com


jpnn.com, MALANG - Masjid Mujahidin di Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini benar-benar mengamalkan konsep masjid di zaman Nabi Muhammad SAW.

Yakni, masjid sebagai pusat peradaban dan pengembangan masyarakat.

Bahkan, manfaatnya bisa dirasakan umat agama lain.

===========================
Irham Thoriq - Radar Malang
===========================

Persis di atas Masjid Mujahidin di Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur terdapat beberapa tandon air berukuran jumbo.

Besarnya melebihi dekapan orang dewasa. Tandon air itu merupakan sebagian dari tandon milik Perusahaan Air Minum (PAM) Masjid Mujahidin.

Perusahaan air ini berada di bawah Yayasan Mujahidin. Saat ini, air tersebut mengalir hingga tiga desa di Kecamatan Kalipare. Yakni, Desa Arjowilangun, Arjosari, dan Kalirejo.

”Ada sekitar 800 pelanggan resmi di perusahaan air minum ini,” kata Ustad M. Kholiq, salah seorang penggagas Masjid Mujahidin.

Rupanya, jika dirunut ke belakang, perusahaan air minum ini merupakan cikal bakal dakwah umat Islam di tempat ini.

Dulu, sebelum Masjid Mujahidin berdiri, di daerah ini, Islamnya belum berkembang dan banyak umat Katolik-nya.

Saat M. Kholiq berdakwah di tempat ini pada 1990-an, selain mendirikan masjid, juga mengatasi kesulitan air bagi warga setempat. Itu karena di tempat ini dulu tidak muncul air.

”Konon ceritanya tempat ini dapat kutukan sehingga airnya tidak muncul,” imbuh alumnus UIN Maliki Malang ini.

Berdasarkan berita yang berkembang di masyarakat, dulu ada seorang wali yang meminta air kepada warga setempat. Namun, oleh warga tidak diberikan.

Jadi, muncullah cerita kutukan tersebut dan membuat desa ini sering mengalami kekeringan.

Tidak mau menyerah begitu saja, Kholiq berusaha mengebor tempat ini. Karena tanahnya keras, butuh waktu tiga bulan untuk mengebor tanah itu.

”Saya bor hingga seratus meter dan akhirnya airnya keluar,” imbuh dia.

Hingga saat ini, ada tujuh titik tanah yang dibor. Rupanya, dengan menjawab kebutuhan masyarakat berupa air, semakin banyak masyarakat yang respek terhadap perkembangan Islam di tempat ini.

”Kalau sekarang alhamdulillah masjid selalu penuh jamaah,” ucap pria berusia 54 tahun ini.

Setelah berhasil mengeluarkan air dari tanah, pada 2004 silam, perusahaan PAM Masjid Mujahidin berdiri. Meski pelanggannya saat ini sudah ada 800 orang, tapi menurut Kholiq, perusahaan ini sifatnya sosial.

Tarif yang dikenakan kepada pelanggan cukup murah, yakni Rp 2.000 per satu meter kubik.

”Makanya setiap bulan kami hanya untung sekitar Rp 500 ribu–Rp 1 juta,” imbuhnya.

Selain itu, perusahaan ini juga bertekad menggratiskan biaya untuk lembaga sosial keagamaan. Seperti masjid, gereja, panti asuhan, dan sejumlah rumah ibadah lain.

Bahkan, SDK Santo Yohanes dan Gereja Katolik Santo Yohanes yang berada persis di seberang Masjid Mujahidin diberikan air secara gratis.

”Apalagi kami tetanggaan, jadi setiap bulan tidak kami kenakan tarif,” imbuhnya.

Ustaz Diya’uddin, salah seorang pengajar dari Pondok Pesantren Nurul Haromain yang merupakan unit pendidikan dari Yayasan Mujahidin, menambahkan, menjadikan masjid sebagai pemberdayaan umat sangat bagus.

”Sebab, dulu di zaman Nabi Muhammad juga seperti itu, bahkan latihan perang dulu juga di masjid,” katanya.

Sementara itu, Katijan, penjaga SDK Santo Yohanes, membenarkan kalau sekolahnya mendapatkan air gratis dari Masjid Mujahidin.

”Sejak tiga tahunan yang lalu dapat air gratis, sedangkan kami juga sering meminjamkan halaman sekolah kami untuk parkir ketika di masjid ada kegiatan,” kata Katijan. (***)

 


Berita Terkait: