Masjid Mujahidin, Simbol Perjuangan Syuhada TNI Angkatan Laut

Jumat, 23 Juni 2017 – 13:58 WIB

Masjid Mujahidin, Simbol Perjuangan Syuhada TNI Angkatan Laut

SIMBOL PERJUANGAN: Masjid Mujahidin di kawasan Jalan Perak Barat yang didirikan sebagai bentuk peringatan terhadap perjuangan para prajurit TNI AL. Foto Satria Bagus Pamungkas/Radar Surabaya/JPNN.com


jpnn.com, SURABAYA - Bicara soal keberadaan masjid bersejarah di Kota Pahlawan, yang satu ini tak boleh ketinggalan. Ia adalah Masjid Mujahidin.

Masjid yang terletak di Jalan Perak Barat ini memiliki banyak sejarah unik yang terukir dalam bangunan ibadah seluas 5.022 meter persegi tersebut.

Satria Bagus Pamungkas - Radar Surabaya

Takmir Umum Masjid Mujahidin, Adnan Yusuf mengatakan bahwa ada sejarah unik di balik pembangunan Masjid Mujahidin.

Menurut dia, dahulu kala di zaman awal kemerdekaan, kawasan Perak dikenal sebagai pusat konsentrasi pasukan Angkatan Laut Republik Indonesia. Mereka rata-rata bertugas di kawasan dermaga Tanjung Perak.

Mereka ini mayoritas muslim. Namun hingga awal tahun 1950-an, masih belum ada masjid di kawasan Perak.

Hal itu ternyata dikeluhkan oleh para tentara tersebut. Mereka mengaku kesulitan untuk beribadah. Dari situlah, mulai digagas pembangunan masjid di kawasan Perak.

“Tahun 1955, pembangunan masjid pun dimulai. Pembangunan masjid ini bertujuan untuk memudahkan para anggota TNI AL itu beribadah terutama untuk salat Jumat,” kata Adnan.

Pembangunan masjid saat itu dilakukan oleh pihak yayasan yang dipimpin oleh Djakfar Yasman. Ia adalah seorang purnawirawan TNI AL.

Saat itu, dana pembangunan yang digunakan juga dari yayasan. Setahun kemudian, pembangunan masjid tuntas. Namun, masjid belum diberi nama. Sebab, saat itu para pengelola yayasan masih bingung mencari nama yang pas.

Seiring berjalannya waktu, para pengurus yayasan akhirnya menamakan masjid tersebut dengan sebutan Mujahidin. Nama itu kemudian bertahan dan menjadi ikon masjid di kawasan Perak itu hingga saat ini. Dipilihnya nama Mujahidin juga bukan tanpa alasan.

“Soalnya, kan para jamaah masjid kebanyakan para prajurit TNI AL yang banyak berjuang di medan perang. Mereka sering menghabiskan waktu di masjid ini. Nah, para prajurit itu dianggap sebagai seorang mujahid atau pejuang (kemerdekaan). Karena itu akhirnya dinamakan Masjid Mujahidin,” jelasnya.

Adnan menjelaskan bahwa masjid ini awalnya memiliki bangunan yang sederhana. Kemudian pada medio 1990-an, masjid sempat direnovasi total sehingga menjadi lebih mewah dan modern seperti saat ini.

“Namun demikian, masih ada satu yang asli peninggalan dari proses pembangunan pertama, yakni kubahnya,” jelas pria asli Makassar ini.

Adnan mengatakan bahwa Masjid Mujahidin mampu menampung jamaah hingga 3.000 orang.

Biasanya, jamaah penuh pada saat salat Jumat. Bahkan, saat salat Ied seperti salat Iedul Fitri nanti, jumlah jamaahnya bisa meningkat dua kali lipat mencapai 6.000 orang. (*/jay)


Berita Terkait: