Masjid dan Gereja Berdempetan, Warga Saling Bantu

Selasa, 12 Juni 2018 – 16:31 WIB

Masjid dan Gereja Berdempetan, Warga Saling Bantu

Tim Jelajah Pesantren di Kampung Minoritas Muslim kini berpindah ke Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto Radar Malang/JPNN.com


jpnn.com, MALANG - Tim Jelajah Pesantren di Kampung Minoritas Muslim kini berpindah ke Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sebelumnya telah dikupas pesantren Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di Dusun Kebon Kuto, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Seperti apa dinamika perdamaian di tempat ini?

===========================
Irhan Thariq - Radar Malang
===========================

Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, memang mayoritas penduduknya adalah muslim. Tapi, ada fenomena menarik yang berada di desa ini.

Yakni, kita banyak menemukan gereja dan masjid yang berdempetan. Jaraknya antar dua rumah ibadah ini hanya sepelemparan batu.

Salah satunya adalah Masjid Mujahidin di Desa Arjosari. Persis di seberang masjid ini ada SD Katolik Santo Yohanes. Sedangkan persis di samping sekolah tersebut, hanya ada Gereja Katolik Santo Yohanes. Kendati berdempetan, tidak ada riak-riak perpecahan antarumat beragama di desa ini.

Masjid Mujahidin sendiri sudah berdiri pada 1990-an. Dulu di desa ini, kegiatan keislaman tidaklah bergeliat. Bahkan, banyak umat Islam yang berstatus kartu tanda penduduk (KTP). Artinya, hanya di KTP-nya saja bertuliskan agama Islam.

”Tapi, dulu mereka sangat jarang sekali salat, makanya kami mendirikan masjid sekitar 1990-an,” kata M. Kholiq, penggagas pendirian Masjid Mujahidin.

Karena di desa ini dulu yang bergeliat adalah kegiatan-kegiatan agama Katolik, awal mula pembangunan masjid di tempat ini banyak mendapatkan pertentangan dari penduduk.

”Tapi, kami selesaikan dengan musyawarah dalam sehari, sudah selesai,” imbuh pria berusia 54 tahun ini.

Setelah pertentangan pembangunan masjid ini mereda, akhirnya penduduk bahu-membahu membangun masjid ini. ”Saya ingat betul, saat itu ada umat Kristen yang menyumbang rokok, ya saya terima,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, ketika itu Sekolah Katolik Widya Karya Malang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di tempat tersebut. Nah, mereka ketika itu juga ikut membantu pembangunan masjid. ”Mereka ikut usung-usung juga,” imbuhnya.

Setelah masjid selesai dibangun, nyaris tidak ada perselisihan antara umat Katolik dan muslim di tempat ini.

Masjid Mujahidin kini berkembang sangat pesat. Di bawah Yayasan Mujahidin, sudah banyak lembaga dan unit usaha yang berdiri. Semuanya cikal bakalnya adalah Masjid Mujahidin.

Lembaga itu di antaranya, Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Mujahidin yang mempunyai 40–50 siswa. Lalu, Panti Asuhan Mujahidin, koperasi simpan pinjam Mujahidin, Perusahaan Air Minum Mujahidin yang sudah berdiri sejak 2004. Lalu, TK Al Hidayah hingga Sekolah Dasar Islam As Said.

”Sedangkan yang sedang proses dibangun saat ini adalah Pesantren Nurul Haromain, pesantren ini juga berada di Yayasan Mujahidin,” imbuhnya.

Meski sudah maju pesat, tapi tetap saja toleransi dijunjung oleh jamaah Masjid Mujahidin dan umat Gereja Katolik Santo Yohanes. Semisal saat ada perayaan Misa, masjid ini tidak mengeraskan speaker-nya.

”Biasanya Misa bersamaan dengan salat Isya, kami mengalah tidak memakai speaker,” katanya.

Saling tolong-menolong juga dilakukan saat Masjid Mujahidin ada acara seperti pengajian. ”Kami biasanya parkir di depan SDK Santo Yohanes,” pungkas suami dari Endang Winarti ini.

Hal tersebut juga dibenarkan salah seorang guru SDK Santo Yohanes Wiyono, 51. Menurut dia, sekolah tersebut memang sering dijadikan tempat parkir jika di masjid ada kegiatan.

”Ketika ada pelajaran, masjid juga tidak memakai pengeras suara ketika ada kegiatan,” kata Wiyono yang merupakan guru asli Kabupaten Blitar ini. (***)


Berita Terkait: