Kisah Spiritual: Yang Rindu dan Dirindukan

Minggu, 03 Juni 2018 – 17:09 WIB

Kisah Spiritual: Yang Rindu dan Dirindukan

Prof Dr A Effendi Kadarisman. Foto for Radar Malang/JPNN.com


jpnn.com, MALANG - Di wilayah intelektual, saya dikaruniai ketajaman yang cukup, sementara di ranah spiritual radar saya tumpul.

Jadi tak ada yang terlalu istimewa. Tapi, justru yang biasa-biasa saja ini mungkin lebih mudah untuk saling dihayati.

Izinkan saya menggunakan metafora. Selalu ada keseimbangan antara intensitas menggosok intan-kepribadian dan cahaya yang muncul.

Yang saya maksud dengan ”menggosok intan-kepribadian” adalah ”upaya keras meningkatkan kualitas iman lewat berbagai amal saleh”. Sedangkan ”cahaya” merujuk pada ”menebar syiar Islam”. Saya rasakan seperti ada arahan–indah dari langit, terutama di bulan Ramadan.

Ketika salat berjamaah semakin khusyuk dan istikamah, tadarus semakin nikmat-ketagihan, dan sedekah semakin tulus-kecanduan, undangan untuk khotbah dan ceramah pun datang mengalir.

Jujur saja, sebenarnya saya lebih menikmati status makmum daripada imam, lebih menyukai duduk bersama jamaah daripada berdiri sebagai khatib. Karena ringan tanggung jawabnya. Tetapi ketika undangan itu datang dengan tulus dan jujur, tak bisa saya menolaknya.

Permintaan Radar Malang untuk menulis tentang pengalaman spiritual ini pun terasa seperti kejutan dari langit.

Seumur hidup tidak pernah ada tulisan saya, dengan aroma eksklusif akademis yang terbit di koran. Jadi, tulisan ini pun merupakan kelanjutan dari ”perintah” menebar syiar Islam tersebut.

Maka, untuk sementara, bisa saya simpulkan: Ketika dengan ikhlas jiwa-raga ini kita pasrahkan kepada Allah, ada cahaya-iman yang dilihat-Nya.

(Bukankah ”Islam” berarti pasrah diri?) Lalu muncul perintah: Bagikanlah cahaya itu dengan hamba-hamba-Ku yang lain. Saya jadi ingat ungkapan nuurun ’alaa nuurin (”cahaya di atas cahaya”, Alquran 24: 35), yang merujuk pada cahaya Allah atas hati orang-orang yang beriman.

Cahaya adalah metafora terbaik bagi kebenaran Islam. Alquran adalah cahaya yang membedakan antara yang haq dan batil.

Nabi SAW adalah pembawa cahaya kerasulan yang mengusir kegelapan kemanusiaan. Dan, Allah SWT adalah Maha Cahaya yang menerangi jiwa semesta, jiwa seluruh jin dan manusia.

Dalam berpasrah diri yang total, muncul rasa bahagia, juga takut-dan-harap. Seluruh jiwa-raga bermohon.

”Ya Allah, salatku belum sepenuhnya tunduk-khusyuk di hadapan-Mu, tapi terimalah karena luasnya rahmat-Mu. Pemahamanku atas firman-Mu amat terbatas, tapi jangan jadikan dia penghalang bagi hidayah-Mu. Dalam bersedekah saya takut ada rasa pamer; maka jadikanlah dia amal yang ikhlas, semata mengharap rida-Mu.”

Dalam berpasrah diri yang total juga terkadang muncul rasa haru dan tangis bahagia. Sungguh benar kata Alquran (5: 86), ”Kau lihat mereka sembap berlinang air mata karena menemukan kebenaran.”

Maka bagiku bahagia lebih merupakan jalan, merupakan laku. Bahagia adalah ketika rindu insani bertemu dengan rindu Ilahi. Hati yang rindu berjamaah dan dirindukan oleh masjid. Jiwa yang rindu bertadarus dan dirindukan Alquran.

Tangan yang rindu-memberi dan dirindukan oleh berkah yang melimpah. Bahagia adalah pasrah total yang terungkap dengan intens.

”Sejatinya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk-Mu, ya Allah, Tuhan pemelihara jagad raya.”

Disambutkah pasrah dan rindu sang hamba oleh Allah SWT? Sudah sering kita dengar hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Mari kita simak ulang.

”Jika hamba-Ku mendekat pada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat padanya sehasta. Jika dia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekat pada-Nya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan menyongsongnya berlari.” Subhanallah! (***)

Prof Dr A Effendi Kadarisman
Guru besar Linguistik di Universitas Negeri Malang (UM)


Berita Terkait: