Kisah Spiritual dari Musala tak Bernama

Jumat, 01 Juni 2018 – 00:02 WIB

Kisah Spiritual dari Musala tak Bernama

Prof Dr Junaidi Mistar Guru Besar di Universitas Islam Malang.


jpnn.com, MALANG - Sebagai seorang yang berasal dari kampung, kisah spiritual saya tentu saja dimulai dari kampung semasa masih kanak-kanak.

Ya, saya belajar mengaji di musala (langgar) kampung di tanah kelahiran saya, yaitu Desa Darungan, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang.

Musala itu tak ada namanya, tidak seperti musala sekarang, terutama di kota yang pasti memiliki nama seperti Mushala Ar Rahmah, Mushala Siti Hajar, dan sejenisnya.

Oleh karena itu, orang kampung memberi nama musala itu sesuai dengan nama kiai atau ustad yang mengajar. Musala tempat saya belajar itu pun disebut Langgar Kiai Sadu. Artinya langgar milik Kiai Sadu. Nama lengkapnya adalah Kiai Sadudin.

Aktivitas pembelajaran dimulai menjelang magrib, sekitar pukul 16.30. Pada saat itu, semua santri yang hanya sekitar 10 orang harus sudah datang ke musala.

Jumlah santri di musala memang tidak banyak. Karena banyaknya jumlah musala di kampung dan biasanya hanya bersifat penyiapan sebelum santri melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren yang lebih besar.

Kegiatan di musala dimulai menjelang magrib. Mungkin karena kiainya baru pulang dari sawah atau tegalnya sore hari itu. Tetapi, mungkin juga karena para santri, termasuk saya, biasanya masih bermain setelah pulang sekolah.

Tentu permainan khas anak desa seperti jenthik, ketapel, kelereng, dan lain-lain. Sayang sekali, permainan-permainan itu sudah tidak dikenal oleh anak-anak zaman sekarang.

Saat waktu magrib tiba, kami biasa berebut alat pukul bedug dengan teman-teman yang lain, seolah-olah bisa memukul bedug untuk memberi tahu bahwa waktu magrib sudah tiba itu merupakan suatu prestasi.

Pemukulan bedug ditutup dengan tiga pukulan dur… dur… dur… pertanda salat Magrib sebanyak 3 rakaat. Salah satu santri mulai mengumandangkan azan untuk memanggil orang sekitar datang ke musala untuk salat.

Setelah azan selesai, kami membaca puji-pujian sambil menunggu Kiai Sadu keluar dari rumah naik ke musala.

Begitu kiai datang, iqamah dilantangkan, dan kiai mulai menjadi imam salat Magrib yang dilanjutkan dengan wiridan. Kadang saya dilempar tasbih oleh kiai karena saat wiridan saya mengantuk.

Wiridan selesai, dilanjut dengan salat sunnah ba’diyah 2 rakaat dan setelah itu kami mulai diajari mengaji. Seperti umumnya di musala dan pondok pesantren, metode pembelajarannya adalah model sorogan, di mana santri menghadap ke kiai satu per satu.
Santri membaca Alquran dan kiai menyimak. On spot correction dilakukan jika ada ketidaksempurnaan dalam membaca Alquran, baik dari sisi makhroj-nya maupun dari sisi tajwidnya.

Pelajaran mengaji usai, dan masuk waktu isya. Lagi-lagi santri berebut alat pukul bedug untuk memberi tahu salat Isya akan dimulai. Pemukulan bedug ditutup dengan 4 kali pukulan, dur…dur…dur…dur… pertanda akan salat 4 rakaat.

Salat Isya diawali dengan salat sunah qobliyah 2 rakaat dan diakhiri dengan salat sunnah ba’diyah juga 2 rakaat setelah wiridan.

Pelajaran berikutnya adalah drill bacaan salat. Semua santri harus belajar membaca bacaan salat dengan nyaring, mulai dari niat dengan bacaan ”usholli” sampai salam.

Pada sesi pelajaran ini ada istilah tren, yang kemudian saya ketahui ternyata dari bahasa Inggris, train (training) yang berarti pelatihan. Tren sebenarnya adalah hukuman yang diberikan kepada santri yang tidak menunaikan salat Dhuhur.

Yaitu, saat santri-santri yang lain membaca bacaan salat dengan duduk bersila, santri yang sedang di-tren ini harus berdiri memperagakan gerakan salat sesuai dengan bacaan. Tentu saja saya juga pernah kena hukuman tren ini.

Kegiatan berikutnya adalah pelajaran tajwid atau kitab fikih dasar, yaitu Safinatunnajah dan Sullamuttaufiq yang dijadwal secara bergantian.

Untuk pelajaran tajwid, materi disusun dengan tanya jawab dalam bahasa Madura tetapi ditulis dalam bahasa Arab yang harus dibaca secara nyaring. Hingga sekarang, saya sangat hafal betul frase dan kalimat dalam pelajaran tersebut:

Soal: Kadipunapa se enyamai idhar?
Jawab: Dening se enyamai idhar enggi kakdinto…

Pelajaran ini mengakhiri kegiatan pembelajaran di malam hari yang selesai sekitar pukul 21.00.

Apakah setelah itu santri bisa istirahat? Belum. Santri yang besar masih ada tugas mengisi bak mandi musala dengan menimba air dari sumur. Bila bak mandi sudah penuh, baru kemudian santri beristirahat, yaitu tidur di musala.

Pagi hari menjelang Subuh, Kiai Sadu membangunkan para santri untuk salat Subuh, yang dilanjut dengan wiridan dan pelajaran mengaji lagi. Pelajaran ini selesai hingga matahari terbit.

Kegiatan di musala diakhiri dengan menyapu halaman musala dan halaman rumah kiai. Santri pun kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk siap-siap berangkat ke sekolah. Sedangkan kiai pergi ke ladang atau sawah untuk bertani.

Rutinitas penempaan spiritualitas yang saya jalani seperti ini berubah saat bulan Ramadan. Ramadan adalah bulan yang spesial bagi santri. Selama bulan puasa itu, tidak ada kegiatan belajar-mengajar, baik pelajaran mengaji Alquran maupun mengaji kitab.

Penggantinya adalah kegiatan darusan. Kegiatan tadarus ini dengan target 6 juz per malam, sehingga Alquran khatam dalam 5 malam. Selama Ramadan itu, santri berangkat ke musala menjelang Isya setelah mereka berbuka di rumah masing-masing.

Mereka datang ke musholla dengan masing-masing telah membawa tabeg (bekal) untuk sahur. Sahurnya pun bukan saat menjelang imsyak seperti kebiasaan saya sekarang.
Melainkan, usai tadarus sekitar pukul 24.00, kiai memerintahkan santri untuk langsung sahur. Mungkin kiai berpikir supaya para santri yang umumnya memang masih usia SD dan SMP itu masih bisa istirahat yang cukup sebelum masuk Subuh.

Ini berarti, justru saat saya masih kanak-kanak, saya sudah terbiasa berpuasa selama sekitar 17 jam, mulai pukul 00.30 sampai 17.30.

Suasana darusan kadang diwarnai persaingan antarmusala. Kadang suatu musala kedatangan tamu santri yang nompoh (bertandang untuk bersaing) dari musala lain yang sengaja datang untuk beradu kepandaian membaca Alquran.

Santri tamu itu akan mengaji dan disimak dengan sangat cermat oleh santri tuan rumah. Setiap kesalahan sekecil apa pun akan dikoreksi. Semakin sedikit koreksinya, semakin bagus kualitas pembelajaran di suatu musala. Kebetulan saya sendiri termasuk yang agak sering diajak nompoh atau menerima tompohan.

Rutinitas ini saya jalani hingga saya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Pada saat itu, saya dihadapkan pada 2 pilihan, melanjutkan pendidikan umum ke jenjang SLTA atau melanjutkan pendidikan agama ke pondok pesantren.

Saat itu, saya belum tahu bahwa sebenarnya ada pondok pesantren yang juga menyelenggarakan pendidikan umum.

Karena ketidaktahuan itu, maka tidak ada alternatif untuk melanjutkan studi agama di pondok pesantren sekaligus melanjutkan studi umum di sekolah.

Orang tua sebenarnya mendorong saya ke pondok pesantren saja karena beliau berdua mengharapkan saya menjadi guru mengaji, tetapi saya memohon untuk diperkenankan melanjutkan sekolah umum.

Mungkin karena saya ngotot, akhirnya permohonan dikabulkan dengan 2 syarat. Pertama, sekolahnya ke sekolah pendidikan guru (SPG). Sehingga, walaupun tidak menjadi guru mengaji, saya tetap bekerja mengajarkan ilmu kepada orang lain, yaitu menjadi guru di sekolah.

Kedua, saya harus tetap belajar mengaji di musala. Maka, belajarlah saya di SPG dan malam hari masih belajar mengaji dan tidur di musala. Bahkan kebiasaan tidur di musala bersama santri itu berlanjut saat saya sudah kuliah di IKIP Malang.

Selama saya menjadi mahasiswa, setiap saya pulang kampung, saya tidur bersama santri di musala.

Pengalaman belajar ilmu umum di sekolah dan belajar ilmu agama di musala yang tak bernama itulah yang menempa perkembangan intelektualitas dan spiritualitas saya hingga meraih keadaan seperti sekarang ini. Alhamdulillahi rabbil aalamiin. (radarmalang/abm)

 

Prof Dr Junaidi Mistar
Guru Besar di Universitas Islam Malang

 


Berita Terkait: