Idulfitri Momentum Sucikan Diri Dari Radikalisme

Selasa, 20 Juni 2017 – 17:48 WIB

Idulfitri Momentum Sucikan Diri Dari Radikalisme

Suasana sekitar Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, usai salat Jumat (9/6). Foto: Fathan Sinaga/JPNN.com


jpnn.com, JAKARTA - Idulfitri diharapkan menjadi momentum bagi umat Islam untul menyucikan diri dari radikalisme dan terorisme yang bertujuan merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar mengatakan, radikalisme dan terorisme adalah momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Apalagi, ancaman terorisme itu saat ini benar-benar nyata dengan keberadaan kelompok militan ISIS.

Tidak hanya di Suriah dan Irak, SIS telah melebarkan sayap ke Filipina Selatan.

"Dengan Idulfitri inilah kita kembali sucikan diri pengaruh radikalisme dan terorisme dengan kembali ke Islam yang rahmatan lil alamin. Dengan Idulfitri ini kita tingkatkan rasa cinta tanah air dan bangsa demi keutuhan NKRI," ujar Kiai Nasarudin, Senin (19/6).

Dia menilai bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai ujian. Karena itu, bangsa Indonesia harus memiliki 'pertahanan' kuat dalam menghadapi 'serangan-serangan' dari luar.

Kondisi itulah yang mengharuskan semuanya harus introspeksi. Mulai diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan sebagainya.

Menurut Kiai Nasarudin, mewujudkan Indonesia yang bersih dari radikalisme dan terorisme adalah dengan memperkuat pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam dan Pancasila.

Dia optimistis Indonesia akan kukuh dari berbagai gangguan bila Islam dan Pancasila semakin mengakar kuat.

"Idulfitri itu saling memaafkan dan menjalin silaturahmi. Jadi, ini momentum untuk mengejawantahkan nilai dari Islam dan Pancasila itu sendiri," imbuh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini.

Dia menilai, Islam dan Pancasila adalah sesuatu yang kompatibel. Islam adalah ajaran universal, sedangkan Pancasila adalah kearifan lokal.

Islam tidak mengatur A-Z. Akan tetapi, Islam mengatur cover-nya atau dasarnya. Sedangkan aksesoris dan keindahannya diserahkan oleh kearifan lokal yaitu Pancasila sebagai ideologi bangsa.

"Islam dan Pancasila seperti mata uang tapi memiliki sisi yang berbeda. Keduanya berfungsi karena apabila salah satu sisinya hilang, maka uang tersebut tidak dapat dipergunakan. Jadi, sisi  tersebut bisa saling melengkapi dan menyempurnakan," terang mantan Wakil Menteri Agama RI ini.

Salah satu hasil kolaborasi Islam dan Pancasila itu adalah toleransi. Kiai Nasarudin memaparkan bahwa toleransi itu membutuhkan kelapangan dada dalam memahami perbedaan.

Dia optimistis Indonesia akan makin besar bila memiliki nilai-nilai tersebut.

"Untuk membuat orang lain baik kita harus memulai dari diri kita dulu. Di ibaratkan seperti guru. Seorang guru tidak akan bisa memintarkan anak didiknya apabila dirinya sendiri belum menjadi manusia yang pintar. Jadi marilah kita jadikan Idulfitri tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri dalam menghadapi paham-paham kekekerasan dengan nilai-nilai kesucian yang diajarkan Islam," pungkas Kiai Nasarudin. (jos/jpnn)


Berita Terkait: