Ramadan Momentum Saling Bertoleransi Antarumat Beragama

Selasa, 13 Juni 2017 – 17:05 WIB

Ramadan Momentum Saling Bertoleransi Antarumat Beragama

Alissa Wahid. Foto: Istimewa for JPNN


jpnn.com, JAKARTA - Ramadan harus bisa menjadi sebuah momentum untuk saling bertoleransi dan hormat-menghormati antarumat beragama.

“Sebagai warga negara yang hidup dalam masyarakat yang majemuk, bulan Ramadan ini harus bisa dijadikan sarana untuk mengasah spirit toleransi dan kerukunan antar sesama umat tersebut,” ujar Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh di Jakarta, Selasa (13/6) 

Wanita yang karib disapa Alissa Wahid itu menambahkan, toleransi pada dasarnya sikap untuk saling menghormati.

Sikap saling menghormati itu dasarnya adalah keyakinan bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Karena itu, setiap manusia memiliki posisi yang setara yang nantinya akan dinilai oleh Tuhan

“Jadi yang membedakan atau manusia berbeda hanya dari ketakwaannya. Tuhan akan menilai manusia hanya dari ketakwaan. Bukan manusia yang menilai. Tetapi selain itu manusia di muka bumi ini adalah setara,” ujarnya

Dia menambahkan, manusia yang beragama harus bisa saling menghormati dan bertoleransi.

Untuk itu, dirinya meminta seluruh umat manusia untuk memulainya dari berpikir adil.

“Kalau kita bisa berpikir adil, lalu kalau kita mengikuti ajaran di dalam kitab suci bahwa Tuhan itu menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku untuk saling mengenal dan saling membantu, maka toleransi seharusnya tidak menjadi masalah,” ujar putri Gus Dur tersebut.

Wanita yang telah menyelasaikan studi master bidang psikologi.di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini tidak menampik atas kekhawatiran yang terjadi selama ini terhadap pesan permusuhan yang beredar di media sosial yang semakin menguat.

Bersama para murid-murid Gusdurian yang tersebar di berbagai daerah dirinya bermitra dengan International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) untuk melakukan penelitian terhadap masalah intoleransi dan terorisme.

Menurutnya, ada dua hal yang cukup menarik yang muncul dari penelitian tersebut dalam dua kutub. Kutub yang pertama adalah 88 persen anak muda di Indonesia sebenarnya tidak setuju dengan terorisme.

“Tapi  pada saat yang sama, sikap intoleran itu ternyata juga semakin menguat. Jadi walaupun tidak setuju dengan terorisme pada saat ini, tetapi ada sikap-sikap tidak menyukai atau tidak setuju kepada orang-orang yang berbeda agama, berbeda suku,” ujarnya.

Menurutnya, kelompok ekstremis itu menggunakan istilah-istilah yang menyulut kemarahan.

Yang pertama adalah soal bagaimana kelompok agama tertentu itu ditindas dan memandang orang lain menjadi musuh.

“Jadi bahan bakarnya adalah permusuhan, rasa takut dan kebencian. Jadi rasa takut diserang oleh kelompok yang berbeda, kemduian yang kedua yaitu benci. Benci kepada kelompok yang berbeda, lalu yang ketiga permuuhan dan upaya untuk menguasai. Jadi menyerang kelompok yang berbeda,” ujarnya

Melihat hal tersebut, dirinya pun juga memberikan contoh pemikiran dan apa yang telah dilaksanakan oleh Gus Dur yang tidak pernah membeda-bedakan agama masyarakat.

“Bapak saya dulu juga pernah memperkenalkan rukun kemanusiaan, yaitu keadilan, kesetaraan, dan persaudaraan. Jadi kemanusiaan juga menjadi nilai yang dijunjung tinggi dalam bersikap saling toleransi antarsesama umat,” imbuhnya.

Untuk itu dirinya mengingatkan umat manusia tidak ketakutan dengan orang yang berbeda pendapat, kelompok, agama maupun latar belakang.

“Dan momentum bulan Ramadan ini adalah kesempatan buat kita semua untuk mengikis rasa benci, rasa curiga dengan memperkuat rasa saling percaya dan saling rasa keinginan untuk saling membantu sesama umat manusia,” ujarnya. (jos/jpnn)