Masjid Sunan Ampel Jadi Tempat Berkumpulnya para Wali

Senin, 05 Juni 2017 – 08:02 WIB

 Masjid Sunan Ampel Jadi Tempat Berkumpulnya para Wali

SENJA DI MASJID SUNAN AMPEL: Menjelang Magrib, Masjid Sunan Ampel mulai ramai didatangi. Masjid di kompleks makam Sunan Ampel menjadi destinasi wajib dikunjungi wisatawan religi. Foto Andy Satria/Radar Surabaya/JPNN.com


jpnn.com, SURABAYA - Masjid Sunan Ampel masih berdiri kokoh. Di atas sebidang tanah di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, Jawa Timur, masjid itu menjadi tertua di Jawa Timur. Masjid ini juga dikenal sebagai tempat berkumpulnya wali.

Umi Hany Akasah - Radar Surabaya

Masjid Sunan Ampel didirikan tahun 1421 oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel.

Ia dibantu kedua sahabat karibnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji, serta para santrinya.

Selain sebagai masjid tua, masjid pemimpin Wali Songo itu juga menjadi bukti kebesaran Islam di Indonesia.

Masjid Sunan Ampel dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab-Islami.

Masjid ini masih dipengaruhi alkuturisasi dari budaya lokal dan Hindu-Budha lewat arsitektur bangunannya.

Di eranya, masjid inilah tempat berkumpulnya para ulama dan wali dari berbagai daerah di Jawa untuk membicarakan ajaran Islam.

Di masjid ini pula dibahas metode penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Ketua Takmir Masjid Sunan Ampel, K.H. Mohammad Azmi Nawawi mengatakan, Sunan Ampel adalah salah satu Wali Songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

"Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rachmatullah. Merupakan seorang figur yang alim, bijak, berwibawa dan banyak mendapat simpati dari masyarakat. Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja," kata Azmi.

Lebih jauh dijelaskannya, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi. Salah satu Raja Champa yang yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur.

Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke tanah Jawa.

Tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu.

Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama.

“Bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya,” urainya .

Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.

Untuk itu Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit berupa tanah seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam.

Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel.

Sunan Ampel memimpin dakwah di Surabaya dan bersama masyarakat sekitar membangun masjid untuk media dakwahnya yang kini dikenal sebagai Masjid Sunan Ampel.

Penerus pengelola keberadaan Masjid Sunan Ampel ini sampai sekarang masih belum jelas.

Secara formal, Masjid Sunan Ampel ini ditangani nadzir yang baru dibentuk sekitar awal tahun 1970-an.

Yang pertama kali bertindak sebagai nadzir Masjid Ampel ini adalah almarhum K.H. Muhammad bin Yusuf dan diteruskan oleh K.H. Nawawi Muhammad hingga tahun 1998. (bagian-1)


Berita Terkait: